Sebuah Catatan Kehidupan

Hidup itu anugerah, Hidup itu perjalanan panjang, Hidup itu penuh makna dan pelajaran.

  • Membaca koran Kompas hari ini (16 Agustus 2014) halaman 14 di rubrik tentang Iptek – Lingkungan dan Kesehatan: Menulis Ulang Alam Nusantara oleh Ahmad Arif.

    Bagus banget tulisannya. Mengutip awal dan akhir artikelnya:

    “Letusan Gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815 dan Samalas di Pulau Lombok tahun 1257 merupakan yang terkuat dalam sejarah modern. Demikian halnya tsunami Aceh tahun 2004, yang terkuat yang pernah tercatat. Namun, yang paling mematikan sebenarnya ketidaktahuan dan ketidakpastian manusia menghadapi bencana.

    Oleh karena itu, pembangunan Indonesia seharusnya dilandasi pemahaman Nusantara secara utuh, baik ancaman bencananya maupun kekayaan alamnya. Gagal memahami kondisi alam Nusantara dan sejarah peradabannya-yang sangat dipengaruhi gunung dan laut-bisa membawa bencana baru.

    Bencana itu bisa karena alam atau kesalahan kebijakan. Perlu diketahui, sebagian pantai di Tanah Air ternyata menyimpan bahaya tsunami. Tak bisa lagi sembarangan membangun fasilitas publik dan fasilitas strategis di sana.”

    Endingnya cukup powerful, semoga saja banyak pejabat terkait yang membaca dan bisa mempertimbangkan hal ini di pembangunan Indonesia mendatang.

    #refleksi
    #HUT-RI-69

    View on Path

  • “Impian kita pernah bertemu di ujung sana, apakah masih ada kesempatan lagi untuk kita membangun impian itu?”—16 April 2014, 00.44 WIB.

    Sepenggal kalimat dan tanya yang beberapa saat yang lalu hinggap dibenakku.

    Mungkin terlihat mengharap, dari kisah cinta yang telah berlalu, namun cinta untuknya tak pernah bisa benar-benar hilang.

    Dan aku pun tak berani untuk terus dalam ingatan itu, tapi juga tak mau menghapusnya.

    Biar saja cinta itu tetap tinggal di hatiku, sambil berjalan, mungkin di satu titik lain di depan sana aku dan dia bisa benar-benar bersatu membangun impian bersama-sama.

  • Semakin membaca sejarah, semakin kita tahu bahwa banyak sekali sejarah bangsa ini yang dipelintir oleh para penguasa pada zamannya.
    Catatan-catatan yang disembunyikan satu per satu bermunculan, membuat potongan-potongan sejarah mulai tersusun, bila itu benar.
    Mulailah kritis terhadap sejarah yang diajarkan di sekolah yang ditulis buku-buku.

    “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya dan menghargai jasa pahlawannya”

    View on Path

  • Zaman SD dahulu bila diminta untuk mengarang tentang banjir, pasti lebih banyak menceritakan penyumbatan aliran sungai karena sampah. Mungkin karena SD dahulu aku hidup di daerah pedesaan atau di kota kecil.

    Sekarang aku tinggal di Jakarta, di saat musim hujan pasti banjir menjadi momok buat semua warga Jakarta. Mencoba mengurai penyebab banjir di ibukota ini:

    Pembangunan daerah yang tidak ramah lingkungan
    Pembangunan gedung-gedung di area Jakarta yang tidak mengindahkan kebutuhan ruang untuk resapan air hujan sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang dapat terserap saat hujan. Ditambah lagi pembangunan di daerah atas (Bogor) yang juga tidak memperhatikan daya ikat pohon-pohon terhadap air hujan, sehingga saat hujan deras, air langsung mengalir ke aliran sungai karena area hutan sudah berubah menjadi objek wisata atau pemukiman.

    Sungai yang menjadi padat
    Entah sudah berapa banyak bantaran sungai di daerah jakarta dan sekitarnya yang berubah fungsi. Belum lagi masalah sampah dan limbah yang dibuang ke aliran sungai. Pendangkalan sungai pun tak bisa terelakkan.

    Anomali Cuaca
    Beberapa tahun belakangan ini memang cuaca sudah sangat berubah. Dulu dapat dipastikan bahwa musim penghujan datangnya Oktober – Maret dan kemarau datang April – September. Sekarang? Tak pasti kapan awal dan akhir masing-masing musimnya. Mungkin juga dipengaruhi oleh global warming (atau mungkin High-frequency Active Auroral Research Program/HAARP?)

    Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar kedepan bencana banjir ini tidak terjadi (paling tidak area banjir menjadi berkurang)?

    Semua orang punya peran sesuai dengan kekuasaannya dan kemampuannya.

    Mari kita merenungkan hal ini dan segera mengambil tindakan pencegahan!

  • Setiap orang punya bakat dan minatnya masing-masing. Sistem pendidikan kita tidak memberikan ruang yg cukup untuk kita bisa melakukan dan memilih apa yg kita inginkan. Sistem pendidikan kita urban-minded. Jadi jangan salahkan kalau semua orang berboyong-boyong ke kota dan meninggalkan desa. Tak ada lagi anak-anak yang tahu bagaimana cara bertani, beternak, atau menjadi nelayan. Miris sekali, kita pernah menjadi negara maritim yang disegani dan negara agraris yang jaya, dahulu.

    View on Path

  • “The thing is, each of us is the sum total of every moment that we’ve ever experienced, with all the people we’ve ever known. And it’s these moments that become our history. Like our own personal greatest hits of memories that we play and replay in our minds over and over again.” – The Vow

    View on Path

  • Kenangan di KPA Nasional

    Bekerja di KPA Nasional itu penuh dengan pelajaran, persahabatan dan perjuangan.
    Semoga persahabatan yang terjalin akan tetap ada hingga kami tua nanti. 🙂

  • Beberapa waktu yang lalu aku sempat menonton film pendek tentang Bullying, entah menggunakan bahasa apa, aku lupa, yang pasti tanpa ada subtitle. Jadi aku hanya melihat alur cerita dan ekspresi pemerannya saja.
    Menceritakan Bullying di suatu asrama sekolah, di mana sekolah itu terdiri dari murid cowok semua.
    Pendapatku setelah menonton film itu: Bullying merusak diri korban, pelaku dan orang di sekitarnya.

    Korban
    Jelas dia menjadi bulan-bulanan dari pelaku, mengalami kekerasan verbal, fisik atau mental atau bahkan kombinasi dari tiga hal itu.

    Pelaku
    Orang ini secara sadar ataupun tidak telah melakukan kekerasan untuk menunjukkan kekuasaan atau kekuatan, atau mungkin hanya sekedar mempermainkan dengan tingkat yang sangat keterlaluan.

    Orang di sekitarnya
    Bisa dikatakan, teman korban dan pelaku, ketika korban di-bully, dia yang mempunyai simpati dan empati akan berusaha menolong, bagi yang tidak maka akan menumbuhkan ketidakacuhan dan mencari selamat masing-masing.

    Dalam kasus ekstrim: korban bunuh diri karena tidak kuat dengan bullying yang dia terima, teman korban berusaha menolong dengan melawan pelaku bahkan membunuh pelaku karena benci, pelaku mati terbunuh, teman korban tadi ditangkap dan dipenjara.

    Ekstrim atau tidak, saya tidak mendukung Bullying!

    20140109-073255.jpg

  • Dan kau ada di antara milyaran manusia, dan ku bisa dengan radarku menemukanmu…

    Ternyata tak semudah membalikkan tangan, dude!

    Listening to Perahu Kertas by Maudy Ayunda

    Preview it on Path

  • Sekitar awal tahun 2005, aku untuk pertama kalinya bekerja di Jakarta. Padahal sejak dari SMP aku sudah mempunyai cita-cita untuk tidak bekerja di kota metropolitan ini. Namun ternyata takdir membawaku ke sini.

    Dahulu aku bekerja di sebuah perusahaan pembasmi hama. Posisiku saat itu di bagian Service Support. Pengalaman yang aku dapatkan adalah aku jadi tahu beberapa pabrik yang berlokasi di sekitar ibukota, jadi tahu sedikit mengenainya. Klien perusahaan banyak pabrik dan restoran atau tempat makan yang mengharusnya bebas dari hama serangga atau tikus.

    Tidak lama aku bekerja di perusahaan itu, hanya 6 bulan. Dan kontrakku tidak diperpanjang. Aku tak mau melanjutkan untuk bekerja di situ meski ditawari posisi lain. Aku tidak cocok dengan lingkungannya. Dan aku kembali ke Purwokerto beberapa hari setelah kontrak berakhir.

    Ternyata tidak hanya sampai di situ pengalamanku di Jakarta. Setelah mencari rezeki di Bandung hampir 2 tahun, aku mendapatkan kesempatan untuk dapat bekerja di pusat pemerintahan Indonesia ini. Januari 2011, aku kembali ke Jakarta.

    Bila dulu aku tinggal di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Kini aku tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Aku akui bahwa Rawamangun atau tepatnya Jl. Mustika Jaya II ini sangat baik untuk tinggal. Tidak ramai, relatif aman, dan mudah dijangkau.

    Entahlah, aku merasa Jakarta sekarang lebih ramah terhadapku, dibandingkan di tahun 2005 silam. Banyak sekali pengalaman, baik pekerjaan, persahabatan, cinta dan hidup yang aku dapatkan. Dan itu semua membuatku menjadi semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. Dan aku masih terus belajar dan memperbaiki diri.

    Namun aku tidak tahu pasti sampai kapan aku akan tinggal dan bekerja di sini…. Kita serahkan semua kepada Sang Maha Pengatur dan Pemberi Rezeki. 🙂