Sebuah Catatan Kehidupan

Hidup itu anugerah, Hidup itu perjalanan panjang, Hidup itu penuh makna dan pelajaran.

  • IMG_20160516_221120_HDR
    Suasana Tugu Jogja di malam hari

    Dalam usia hidupku, sudah beberapa kali aku mengunjungi Jogja. Jogja menjadi salah satu destinasi di mana aku ingin menghabiskan sisa waktuku kelak, dalam kedamaian dan keramahan lingkungannya.

    Senin, 16 Mei 2016. Siang hari, pesawat GA 208 telah mendarat di Jogja. Panas terik hari itu menyambutku di bandara. Dengan pemandangan awan yang indah, sayang bila dilewatkan untuk dikenang dalam memori, atau tidak disimpan dalam bentuk foto.

    image
    Pemandangan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta

    Selasa – Jumat, 17 – 20 Mei 2016. Dari pagi hingga sore hari di Hotel Santika Premiere Yogyakarta untuk M&E Workshop dengan rekan-rekan kerjaku saat ini. Melakukan update dan juga memikirkan langkah-langkah selanjutnya dalam menjalankan kerja kami.

    Beberapa tempat yang aku kunjungi bersama teman-teman selama Selasa – Jumat:

    1. My Kopi-O (bareng Aries dan Naufal)
    2. Alun-alun Kidul (bareng Aries dan Naufal)
    3. Koki Joni Turkey and Pasta (bareng Aries, Evi & keluarga, juga Whibie)
    4. Uncle’s Kitchen (bareng Whibie dan Aries)
    5. Raminten 3 (dulu namanya Oyot Godhong Cafe) di atas Hamzah Batik (dulu namanya Mirota) yang di ujung Jl. Malioboro (bareng Aries dan Naufal), tapi di sini kami terlambat untuk nonton Cabaret Shownya. Show nya hanya ada di hari Jumat dan Sabtu, pukul 7.00 – 8.00 pm.
    6. RM Aceh Bungong Jeumpa (bareng Aries dan Naufal)

    On The Weekends

    Nah… di akhir pekan inilah jalan-jalan sebenarnya! Dalam rencanaku sudah ada daftar beberapa lokasi yang ingin aku kunjungi, dan alhamdulillah… banyak yang terealisasi!

    • Museum Ulen Sentalu
    • Candi Prambanan
    • Candi Sewu
    • Kraton Ratu Boko
    • Museum Gunung Merapi
    • Candi Borobudur
    • Bale Raos
    • Taman Sari
    • Masjid Bawah Tanah
    • Kraton Yogyakarta
    IMG_20160522_085408
    Berpose dahulu di dekat gerbang Kraton Ratu Boko

    Perjalanan kali ini memang banyak tempat-tempat bersejarah yang kami kunjungi. Aku sendiri sangat suka dengan sejarah, banyak sekali artiket atau cerita sejarah–yang klasik teruatama–yang sudah aku baca, dengan mengunjungi langsung rasanya kita begitu dekat dengan para pelaku sejarah… Membayangkan di tempat itu pada masa yang berbeda. Ah… rasanya tak terbayangkan….

    Dan, aku ingin kembali ke candi-candi itu… juga berkunjung ke candi-candi lain atau tempat bersejarah lainnya… semoga ada rezeki, kesehatan dan usia untuk melakukannya! Aamiin.

    IMG_20160523_104001_HDR
    Istana Air Taman Sari Yogyakarta
  • Setelah beberapa waktu lalu, masyarakat Jakarta dan sekitarnya dihebohkan dengan pro dan kontra ojek online, kini taksi-taksi konvensional mencoba ‘menggoyang’ transportasi umum online (katakanlah Uber dan Grab).

    Sejak kehadiran Uber, memang Pemerintah Jakarta agak getol dengan masalah kantor perwakilan dan pajak si aplikasi hitam ini. Tak lama setelah itu, aplikasi Grab Taxi pun ikut-ikutan menyediakan layanan yang serupa: Grab Car.

    Uber dan Grab Car menjadi salah satu solusi bagi penumpang yang tidak ingin ribet menunggu atau mencari taksi di pinggir jalan, bisa bayar menggunakan credit card atau cash, mobil yang relatif baru, dan kita bisa mengistimasikan biaya perjalanannya serta ada receipt setelah melakukan perjalanan (biasanya buat diklaim ke kantor :D).

    image
    Suasana pagi hari di salah satu sudut jalan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan

    Pemerintah pun bersikeras agar Uber dan Grab ini punya kantor yang jelas di sini dengan kejelasan kantor perwakilan dan nomor telpon, dan yang tidak kalah penting: harus bayar pajak! Semuanya memang adalah untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang itu sendiri, juga sebagai pemasukan pemerintah daerah tentunya.

    Yang menjadi lucu, taksi-taksi konvensional berdemo meminta si transportasi umum online itu harus ditutup. Di era yang saling sikut di dunia bisnis begini, seharusnya perusahaan taksi dengan kreatif melakukan inovasi-inovasi sesuai dengan permintaan pasar, kalau tidak mau ditinggal pelanggan. Stratifikasi pelanggan pun kini sudah cukup jelas, mungkin bisa mengandalkan promosi di kelompok pelanggan mana yang paling optimal nantinya.

    Kembali, bila melihat dari sisi ekonomi, setiap perusahaan pasti ingin mendapatkan untung sebesar-besarnya, masalahnya adalah penumpang pun sekarang sudah semakin cerdas untuk mencari kebutuhannya sesuai dengan selera dan kemudahannya.

    Semoga transportasi umum baik online maupun konvensional bisa makin lebih baik!

  • Cinemas
    Beberapa bioskop yang saat ini ada di Jakarta

    Berbicara tentang menonton film, artinya menarik ingatanku kembali ke tahun 1989 – 1991, kelas 3 sampai 5 SD, di Cepiring, Kab. Kendal. Di masa itu, aku tinggal dekat sekali dengan Gedung Bioskop Sri Agung.

    Harga tiketnya masih Rp. 500,- untuk waktu regular dan Rp.250,- untuk extra show (jam 11 siang di hari minggu). Sempat naik menjadi Rp. 700,- untuk regular show.

    Aku mulai mengingat nama-nama pemeran film dengan melihat poster-poster yang dipajang. Tidak seperti sekarang, poster film zaman itu lumayan banyak menunjukkan adegan-adegan dalam film. Menghapalkan dengan mengingat nama dan wajah-wajah kemudian membandingkan dengan film-film selanjutnya.

    Aku ingat, di setiap poster film pasti disebutkan “Segala Umur“, “Untuk 13 tahun ke atas” atau “Untuk 17 tahun ke atas“, bahkan di loket pembelian tiket pun dipasang. Saat itu, ada ketidaknyamanan bila aku mau membeli tiket saat yang diputar adalah film yang “Untuk 17 tahun ke atas“. Berbeda sekali dengan sekarang di mana sulit kita temui film yang diputar itu masuk kategori apa, namun bila jeli di layar TV tepat di belakang penjualan tiket di situ tertera nama film, jam tayang dan kategori filmnya.

    Dengan banyaknya artikel dan majalah yang membahas tentang film-film baik yang akan, sedang maupun sudah tayang, penonton sekarang menjadi punya ekspektasi yang cukup tinggi terhadap sebuah film, tak jarang bila setelah menonton film mereka kecewa karena tidak seperti yang dibayangkan atau tidak seperti review yang dia baca. Menurutku sih, menonton itu lebih nikmat kalau kita benar-benar mengikuti alur cerita dan menemukan sendiri berbagai rasa di film itu.

    Belakangan ini aku rajin untuk memberi rating setiap film yang aku tonton melalui aplikasi IMDb dan Movie Mates. Paling tidak memberi sedikit sumbangan “suara” bahwa sebuah film bagus atau tidak. Namun semuanya dikembalikan kepada si penikmat film itu sendiri.

    Sudah dari dulu pula aku suka menonton berbagai film serial. Bahkan dahulu pernah dengan rajinnya menonton film serial silat mandarin, dengan video player beta. Kebayang khan harus seberapa tumpuk tuh kalo serinya lebih dari 20. Kemudian rajin nonton film seri di TV swasta, seperti The X-Files, Dawson’s Creek, Friends dan lainnya. Sekarang tinggal beli dvd-nya di Glodok atau ITC terdekat atau download aja… langsung bisa menikmati serialnya.

    Punya teman yang hobi juga nonton itu juga seru. Bisa saling tukar informasi tentang film yang keren atau sekedar beropini tentang sebuah film. Tidak harus sama-sama suka, yang penting bisa saling berbagi cerita.

    Sudahkan nonton film pekan ini?

  • LGBT_leadership

    Sejak akhir Januari 2016, pemberitaan dan media sosial (mungkin juga obrolan-obrolan sesama teman) di Indonesia kembali dihebohkan dengan topik tentang LGBT. Seperti biasa topik ini menjadi pro dan kontra.

    Baru saja aku selesai membaca 2 artikel di sebuah media cetak dengan topik mengenai LGBT. Sesuai dengan mainstream dari media ini (yaitu agama) semua artikel/tulisan tersebut sangat menentang LGBT dengan semua dalih dan dalilnya.

    Setelah membaca artikel tersebut, tiba-tiba terbesit beberapa hal. Pertama, apakah apabila LGBT dilegalkan/diakui oleh negara kemudian benar akan merusak moral bangsa? Bukankah moral bangsa ini sudah cukup rusak padahal LGBT saja tidak mereka akui? Mengapa mengkambinghitamkan LGBT? Sempit sekali bila moral hanya diukur dari urusan kelamin saja!

    Kedua, salah satu tujuan perkawinan adalah untuk melestarikan umat manusia. Apakah benar bila LGBT diakui kemudian manusia tidak akan lestari? Ketika mengakui LGBT tidak serta merta membuat orang-orang yang heteroseksual menjadi homoseksual. Kembali lagi, itu masalah selera. Lagi pula seberapa banyak hubungan seks dalam pernikahan heteroseksual yang benar-benar tujuannya untuk reproduksi? Lebih sering mana yang tujuannya untuk reproduksi atau pleasure? Dalam hubungan homoseksual tentu saja tujuannya adalah lebih ke pleasure.

    Ketiga, sikap kita pun masih saja plin-plan. Dalam banyak hal kita pilah-pilih. Yang menurut kita menguntungkan kita, kita ambil. Begitu pula dengan hukum-hukum dalam agama. Hanya yang menguntungkan kita saja yang diambil. Apa kabar dengan korupsi? Apa kabar dengan menjaga kebersihan? Apa kabar dengan menggosip? Apa kabar dengan hukum waris? Ah, rasanya meskipun saat ini banyak praktek yang tidak sesuai dengan agama, orang-orang tidak peduli. Lalu mengapa sekarang seperti kebakaran jenggot dengan isu LGBT? Menjadi sok suci dan yang paling benar. Masalah dengan Tuhan, aku kira itu urusan si manusia itu (apapun latar belakang preferensi seksualnya) dengan Tuhan-nya–sesuai dengan keyakinannya. Mengapa menjadi hakim untuk urusan ibadah? Memangnya ibadahmu lebih baik daripada ibadah orang lain? Tidak jaminan!

    Keempat, benar memang bila HAM seseorang itu dibatasi oleh HAM orang lainnya. Bukankah alangkah lebih indah bila saling menghargai dan menghormati? Bila tidak mau jadi LGBT ya tidak perlu jadi LGBT. LGBT pun begitu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang tidak mau berpura-pura menjadi heteroseks. Tapi mereka melakukan itu karena tuntutan masyarakat, paling tidak, membohongi keluarga dan masyarakat sekitar, tapi yang paling menyakitkan adalah membohongi hati nurani sendiri. Kembali lagi, saat ini hal itu menjadi pilihan masing-masing individunya.
    Dipublikasikan di facebook pada Jumat, 5 Februari 2016
    Gambar diambil dari website tech.co
  • 20160124_125639
    Halte Bus TransJakarta di Duren Tiga

    Pengelolaan Bus TransJakarta saat ini perlahan sudah mulai membaik. Perbaikan layanan ini berhubungan erat dengan pembangunan MRT yang saat ini sedang berlangsung. Beberapa perbaikan ini ditunjukkan dengan digantinya bus-bus yang sudah tidak laik dengan bus-bus yang baru. Kopaja AC pun saat ini sudah terintegrasi, tidak perlu lagi membayar bila hendak memilih bus kecil itu. Kemudian lampu-lampu penerangan pun sudah mulai diganti sehingga jauh lebih terang. Namun masih ada beberapa hal yang harus ditingkatkan.

    Masalah tempat antri menunggu bus misalnya, mengambil kasus di Halte Duren Tiga. Halte ini setiap sisinya memiliki 4 pintu tunggu. Seharusnya bisa diatur untuk antrian yang dari arah Ragunan, memisahkan antrian yang ke arah Monas dan yang ke arah Dukuh Atas. Jadi bisa 2 untuk antrian ke arah Dukuh Atas dan 2 pintu selanjutnya untuk antrian arah Monas. Saat ini semua penumpang mengantri hanya di 2 pintu. Itu pun kadang tak sedikit yang berkeluh kesah karena bus secara bergantian tapi tak beraturan berhenti di salah satu pintu, mengingat saat ini bus-bus baik yang baru maupun gantinya Kopaja AC hanya memiliki 1 pintu akses penumpang.

    Yang saat ini menjadi pertanyaan penting, di halte-halte tersebut tidak ada toilet yang bisa digunakan oleh penumpang. Padahal dengan antrian yang kadang cukup panjang, seharusnya ada toilet yang bisa digunakan apalagi bila keadaan “emergency”. Apakah harus berlarian ke salah satu seberang jalan? Itupun harus mencari dahulu di mana toilet berada.

    Rasanya masyarakat perlu terus memberikan masukan-masukan positif agar pelayanan angkutan umum kita bisa semakin baik kedepannya. Dan pengelola angkutan umum, dalam hal ini pengelola bus TransJakarta perlu mendengarkan masukan-masukan positif dari masyarakat.

    Maju terus untuk angkutan umum Indonesia!

  • Derap air berpacu dengan angin,
    Menari di atap rumah dan kaca gedung

    Mendinginkan hawa yang tadi memanas,
    Mencerahkan udara yang penuh debu

    Membayangkan semangkok mie instan,
    Atau sekedar bersembunyi dalam selimut tebal

    Ada banyak cerita di balik hujan,
    Sudahlah, ayo kita kembali ke dunia nyata.

    View on Path

  • Cinta itu membuat orang tak bisa fokus terhadap apa yang dikerjakannya, di dalam pikirannya sering muncul gambaran sang kekasih.

    Cinta itu membuat mata berbinar-binar saat melihat sang kekasih.

    Cinta itu membuat jantung berdegub kencang saat akan bertemu, membuat lidah kelu saat akan berucap, dan serba salah ketika di dekat sang kekasih.

    Cinta itu perih saat menemukan ternyata aku tak ditakdirkan berlanjut bersama sang kekasih.

    Cinta itu bisa membuat tawa menjadi tangis. Bahkan sebaliknya.

    Cinta itu tak pernah salah. Yang ada hanya batasan sosial dan budaya yang membuat kita menjadi salah.

    Cinta itu mengubah kita, mendewasakan kita, juga bisa membuat kita jadi lupa diri.

    Cinta itu meluluhkan segala idealisme dan perfectionisme dan menjadikan kita bertoleransi.

    Cinta itu kadang tak bisa memiliki. Melepaskan dan ikhlas menjadi salah satu bukti tentang rasa.

    Cinta itu bisa tumbuh bak rumput kering yang mendapat guyuran air hujan pertama.

    Cinta itu bisa begitu menggebu-gebu, seakan menunjukkan pada dunia bahwa kita sedang berbunga-bunga.

    Cinta itu datang dari hati, kadang juga berawal dari mata, bukan dari kelamin.

    Cinta itu tak kita pilih, dia bisa menerobos dan melesat di saat tak terduga.

    Cinta itu membuat kita lebih humanis, namun bila tersesat kita bisa menjadi super sadis.

    Cinta itu bak puisi romantis yang kita sulit memprediksi apa makna sebenarnya.

    Cinta itu bisa abadi. Terselip rapi di sudut hati lalu kita melanjutkan hidup menemukan cinta lainnya.

     Sejengkal perjalanan cinta, 12 November 2015

    (Dipublikasikan pertama kali di Facebook)

  • Mengajar Bukan Berarti Guru

    Bila dipikir lebih dalam dan menjelajah ke masa silam, tenyata ada sebagian diriku yang mencintai mengajar, mengajarkan sesuatu yang aku pahami. Di masa kuliah S1 di Fakultas Biologi, UNSOED dari tahun 1999 – 2004, aku ingat beberapa kali menjadi Asisten Praktikum. Asisten Praktikum adalah seseorang yang bertugas menyiapkan materi dan bahan serta alat praktikum untuk para mahasiswa, juga menyiapkan soal-soal kuis dan tes lainnya. Otomatis asisten praktikum juga harus menguasai-atau paling tidak-paham dengan materi yang akan disampaikan atau yang akan dipraktekkan. Mulai dari meng-asisten-i Fisika Dasar, Anatomi hewan, Fisiologi Hewan hingga Biologi Reproduksi Hewan, juga tak luput menjadi asisten Biologi Dasar untuk Mahasiswa Pendidikan Kedokteran. Tidak, aku tidak hapal semuanya, karena aku bukan penghapal.

    Selepas kuliah, dalam waktu yang cukup singkat, aku diberikan kepercayaan oleh seorang sahabat untuk mengajar di lembaga kursus bahasa. Mulai hanya memberikan materi extraclass activity hingga akhirnya handle kelas. Kelas Children (SD kelas 4-6, SMP kelas 1), kelas umum (SMA – Mahasiswa – umum lainnya), kelas private, juga kelas akademi kebidanan. Meskipun tidak punya background khusus Bahasa Inggris, tapi dengan segala ke-pede-an dan bermodalkan belajar terus menerus, alhamdulillah bisa mengajar Bahasa Inggris sekitar 2 tahun-an. Dan, Tidak, aku tidak meng-claim bahwa aku mahir dalam berbahasa Inggris, masih jauh dari sempurna. 😉

    Merambah ke dunia LSM, menjadikan cara mengajar yang berbeda. Mengajar dengan cara berdiskusi, mengajar dengan cara sosialisasi, atau mengajar dengan cara presentasi. Bila tidak boleh dikatakan ‘mengajar’, mungkin lebih tepat dengan kata ‘berbagi’ karena dalam prosesnya pun aku mendapatkan ilmu dari orang-orang yang aku ajak interaksi. Juga, tidak, aku tidak paham semua yang menjadi topik bahasan namun aku terus membuka diri untuk menambah wawasanku.

    Satu hal yang terus ada dalam kepalaku, jangan berhenti belajar dan berbagi ilmu dengan siapapun.

    Jakarta, 10 November 2015

    Selamat Hari Pahlawan, mari berjuang melawan kemalasan diri sendiri!

    (Diposting untuk pertama kalinya di Facebook)

  • “Doa harus selalu diikuti dengan tawakal karena doa adalah simbol dari ketidakmampuan kita di hadapan Allah SWT, bukan tuntutan pada Sang Maha Kuasa agar menuruti apa yang kita mau. Tidak ada ujung yang namanya kecewa pada doa karena ujung doa yang benar adalah bagi kemaslahatan umat, bukan untuk kesenangan diri sendiri.”

    – Shantyadutha: Krisis Gogoma by Dicky Zainal Arifin –

    View on Path

  • IMG_0165 copy

    Foto ini menjadi sebuah kenangan. Kenangan kebersamaan kami sebagai tim. Kini beberapa dari kami sudah menjalani kehidupan di tempat lain, berjuang dengan cara dan takdirnya sendiri.