Sebuah Catatan Kehidupan

Hidup itu anugerah, Hidup itu perjalanan panjang, Hidup itu penuh makna dan pelajaran.

  • Kalau diingat-ingat kembali, bangsa ini begitu mudah terbelah menjadi dua sisi adalah saat kampanye pemilu presiden tahun 2014. Begitu tajam sekali perselisihan antar dua kubu.

    Dilanjutkan dengan pilkada DKI, meskipun ada 3 pasangan calon, namun yang terlihat adalah pro Ahok dan kontra Ahok. Semua energi saat itu cukup terkuras untuk saling balas, saling menjatuhkan, saling mengungguli.

    Dan ternyata tidak cukup berhenti sampai situ. Bahkan hingga kini, begitu mudahnya orang mencaci tentang hal yang tidak sepemahaman atau opini yang berseberangan dengan kelompoknya. Di gelitik sedikit saja dengan status FB, postingan Twitter, postingan IG atau sekedar judul yang provokatif dari berita online. Wuah, dengan serta merta orang akan memposisikan di pro atau kontra.

    Nyinyir sana, nyinyir sini. Orang lebih mudah menjatuhkan orang lainnya daripada memberikan masukan konstruktif kepada orang lain. Entah sampai kapan ini akan berlangsung.

    Harus kuat mental, cyin!

  • Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran dari kisah hubunganku sebelumnya. Baik aku dan dia memang bukan yang sempurna. Dan aku pun tak meng-klaim bahwa diriku lebih baik dari dirinya. Apa yang aku tulis di sini adalah dari sudut pandangku.

    Pertama, tidak buru-buru memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang. Sebaiknya kenali dahulu, pendekatan dahulu. Mengenal karakter calon pasangan kita, dan banyak hal yang perlu dikenali. Bila kita yakin, maka baru ambil keputusan.

    Kedua, bicarakan “kesepakatan” apa yang boleh apa yang tidak boleh. Keterbukaan antara dua belah pihak sangat dibutuhkan. Dan selalu bersiap bila kesepakatan itu mengalami perubahan, bisa berkurang bisa bertambah. tergantung situasi. Dan namanya kesepakatan, maka kedua belah pihak harus setuju.

    Ketiga, living together is a much more complex thing! Jangan pernah mengajak orang yang baru pacaran sebentar untuk tinggal bareng. Karena belum tentu akan lebih baik. Kenali dulu baik-baik si pacar kita itu. Mungkin 2 tahun setelah pacaran kali ya, trust me it takes time to know your spouse well.

    Keempat, keep family-things away from the conflict! Harus disepakati bahwa bila suatu saat ada konflik, tidak membawa-bawa keluarga. Hal ini sangat sensitif. Kita tahu dalam dunia begini family privacy itu sangat penting. Bila pasangan sudah melanggar ini, sebaiknya pertimbangkan kembali hubungan kalian.

    Kelima, tidak memaksakan diri dalam hal ekonomi. Seawal mungkin membicarakan tentang kondisi keuangan atau ekonomi masing-masing. Dan harus bisa saling mendukung, atau paling tidak, tidak menjadi beban salah satu pihak. Kalau mau sama-sama berjuang, itu lebih baik.

    Kita tidak pernah tahu, apakah kita jatuh cinta pada orang yang benar atau salah. Tetapi, sebisa mungkin kita meminimalisasi, untuk jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan orang yang salah. Semoga hal ini menjadi pelajaran penting untuk masa depan, khususnya buat aku pribadi.

    Semoga!

  • Saat makan siang hari ini, seperti biasa aku makan di lantai basement Tempo Scan Tower. Sendirian. Tak lupa selalu melihat dan membaca status-status di media sosial: Facebook dan Path. Tiba-tiba tertuju pada postingan seseorang tentang Skala Periodik Unsur Kimia. Dan pikiranku pun melayang ke 18 tahun silam, 1998. Ya, saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 2.

    tabel-kimia
    dicomot dari googling

    Pada saat aku sekolah, pelajaran kimia baru didapatkan pada saat di SMA, mulai kelas 1 SMA. Karena pelajaran ini sangat baru, di SMP tidak diajarkan secara spesifik. Tentu saja aku agak bingung. Buku lungsuran dari kakakku–yang hanya beda 1 tahun–pun menjadi modal pertama. Awal-awalnya menarik tapi lama-lama menjadi membingungkan. Ditambah lagi sang guru cukup antik dalam mengajar. Tanpa ba-bi-bu langsung kasih soal, yang notabene saat itu kalau tidak dijelaskan oleh guru, kita tidak akan tahu sama sekali.

    Sang guru malah menjelaskan pelajarannya di sore hari, dia buka kelas di laboratorium kimia. istilah dia, Pengayaan Materi. Jadi teman-teman yang mengikuti pengayaan materi tahu/paham lebih dahulu dari yang tidak. Pernah aku mencoba mengikuti Pengayaan Materi tersebut, tapi… tetap saja aku tidak paham. Ah, sudahlah!

    Pernah satu kali pada saat kelas kimia di kelas 3, sang guru memberikan beberapa soal. Yang tidak bisa menjawab maka harus keluar kelas. Dan sebagian besar teman sekelas tidak bisa menjawab, hanya sedikit teman–tentunya yang ikut Pengayaan Materi–yang bisa menjawab dengan baik. Ah, akhirnya 2 jam pelajaran tersebut aku habiskan di Perpustakaan Sekolah dan Kantin.

    Berawal dari ketidakpahaman di SMA inilah, saat kuliah aku pun tak cukup paham. Padahal saat kuliah malah 4 semester ada pelajaran kimianya! Kimia Dasar I, Kimia Dasar II, Biokimia I dan Biokimia II.Argh!

    Membayangkan, bila saja guru kimia di SMA dulu bisa menjelaskan dengan baik. Mungkin saja sekarang aku bisa lebih paham kimia. Atau sama saja? Sudahlah…

  • Berjumpa denganmu adalah kebahagiaanku. Memandang wajahmu, melihat binar matamu dan senyum manismu juga kebahagiaanku.

    Kita berpelukan untuk melepas rindu yang sudah terakumulasi lama. Merasakan kembali debar-debar jantungmu saat kau di sisiku.

    Bertukar cerita tentang masa lalu diselingi guyonan kecil yang membuat kita saling tertawa. Menatap masa depan yang masih tertutup kabut putih.

    Dua jam bersamamu, membuatku semakin mencintaimu. Semakin berharap, bahwa kita akan segera bersama.

    Rasanya ciuman-ciuman itu tak ingin segera berakhir. Kehangatan, keterbukaan dan kesederhanaanmu adalah pesona magis yang selalu ingin kudekap.

    Sekali lagi, ini menjadi pilar di mana tekadku semakin bulat. Menjadikanmu sebagai masa depanku.

  • Tentang Doaku

    Selama ramadhan ini, aku berusaha untuk ikut sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di Masjid As Salam di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, tepat di sebelah gedung tempat kantorku berada.

    Setelah sholat biasanya diisi dengan kultum, kadang-kadang aku dengerin hanya sampai jam 12.30, padahal belum selesai.

    Tadi, entah kenapa aku tak beranjak. Kali ini aku tepat duduk di seberang sang penceramah. Dan seperti biasa aku mainan HP untuk sekedar cek-cek sosmed kemudian diam dan memejamkan mata.

    Aku terbangun karena kaget kakiku tersenggol kaki temanku, padahal baru sebentar aku memejamkan mata. Kemudian aku mendengarkan kembali isi ceramahnya.

    Dia menanyakan, “Jujur ya, apakah kalau kita berdoa pengen cepat dikabulkan?” Dia diam untuk meminta respon, tak ada yang merespon, aku pun sedikit bersuara, “Pengen.”

    Kemudian dia menjelaskan bahwa Muslim perlu berhati-hati bila doanya cepat dikabulkan, jangan-jangan Alloh tidak mau mendengarkan keluh kesah kita jadi Dia segera mengabulkan doa kita.

    Dia menjelaskan dengan hadits dan menjelaskan maknanya dalam bentuk cerita. Semua yang dia katakan seperti menjawab tanyaku, padahal aku tak bertanya. Aku belakangan memang berharap dan berdoa sesuatu, dan aku ingin sekali agar bisa cepat terkabul.

    Ada momen di mana saat penceramah berbicara, sepertinya Alloh sedang “berbicara” padaku. Hampir-hampir aku menitikkan air mata, tapi aku bisa menahan. Hanya saja rasa haru tetap saja berkumpul di dada.

    Mungkin aku harus belajar bersabar untuk menunggu dikabulkannya doaku, belajar ikhlas menerima keadaan sekarang,  dan tetap optimis bahwa Alloh sudah menyiapkan yang terbaik buatku kelak.

  • Rindu dan Harap

    Yang ada di kepalaku saat ini adalah bagaimana aku bisa bersatu denganmu. Membuatmu selalu tersenyum, mendengar suaramu, bersenda gurau denganmu.

    Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menikmati minuman hangat dan dingin berdua, menjelajah negeri bersama, tertawa riang gembira denganmu.

    Hidup dengan sederhana, sekedar menikmati langit malam, atau hanya bercerita tanpa benteng. Oh Tuhan, aku rindu dia.

  • Saat berada di Toilet di Kalibata City kemarin siang, terdengar di area toilet seorang atasan sedang memberi nasihat ke bawahannya.

    Atasan: “Nah, gitu. Yang Rajin. Gak perlu disuruh dahulu, selalu jaga kebersihan toilet.”
    Bawahan: “Siap Pak!”
    Atasan: “Kalau kerja yang sabar. Kalau gajian sisihkan buat zakat dan shodaqoh.”
    Bawahan: “Iya, Pak.”
    Atasan: “Bukan cuma yang kaya aja yang beramal. Kita juga bisa beramal, meskipun sedikit.”
    Bawahan: “86, Pak!”

    Aku yang di dalam salah satu bilik toilet, mendengarkan percakapan mereka pun bertanya pada diri sendiri, “Mengapa aku mendengarkan ini semua? Apa yang ingin Tuhan tunjukkan?”

  • i-am-sad-hurt-angry-mad-disappointed-but-you-know-saying-quotes
    comot dari quotesgram.com

    Ketika darah memanas, isi kepala berkecamuk
    Mempertanyakan begitu banyak hal
    dan hati pun tak mampu meredam
    engkau berubah menjadi bermuka iblis.

    Ketika kata-kata yang keluar dari mulut
    hanyalah pembenaran dari yang kau pikirkan
    memutarbalikkan dan membuat premis salah
    engkau hanya menghembuskan bau iblis.

    Ketika kekuatanmu hanya untuk memaksa
    tak lagi hiraukan kelemahan lawan
    menyakiti dan mencaci dari sanubari
    engkau bak iblis yang sangat sombong.

    Dan bila akhirnya engkau hanya menyesal
    dalam sebuah coretan hitam dari ingatan
    dalam sebuah kecewa akan arti pertemuan
    bila saja waktu bisa berputar kembali.

  • Berhenti

    Ada sebuah masa di mana cinta akan berhenti,
    apapun alasannya dan mungkin hal yang tak kita duga.

    Bila cinta sudah berhenti darimu,
    lepaskanlah agar dia bebas menentukan jalan.

    Bila cinta sudah berhenti darimu,
    berbesar-hatilah dan lanjutkan hidup.

    Bila cinta sudah berhenti darimu,
    perih memang tapi pasti ada pelajaran.

    Tak ada guna mengekang apa yang sudah hilang,
    tak ada guna mengurung hati dan pikiran yang berkelana.

  • IMG_20150516_075318

    Secara magis, membuatku cukup lama terpesona;
    ada serangkai kata yang tak bisa kuucap;
    hanya memandang kemudian berlalu;
    meninggalkan jejak kuat dalam ingatan.

    Lama berselang hanya mampu memandang;
    dekat namun jauh, jauh namun dekat;
    kemudian lalu lalang keindahan lain;
    melupakan sejenak rasa-rasa penasaran.

    Sebuah waktu membuat kita berpapasan;
    berbicara tentang aku, tentang kamu;
    membuka sebuah lembar putih baru;
    yang tadinya disimpan dalam rapi.

    Apa adanya yang kuperlihatkan;
    apa adanya yang kuperhatikan;
    sebuah senyum sederhana, tulus;
    di mana aku takhluk oleh keindahan itu.

    *****