Perjumpaan
Medio 2015, pagi itu di jam yang hampir sama, entah ini untuk yang ke berapa kali, aku buru-buru menuju ke Halte Duren Tiga, salah satu halte Bus Transjakarta yang membentang antara Mampang Prapatan ke Ragunan. Ada harap aku bisa bertemu lagi dengan lelaki tampan itu lagi. Benar saja, dia juga hampir bersamaan denganku sampai di halte itu.
Setiap pagi selalu saja ramai antrian buat masuk ke setiap bus yang merapat ke halte. Kondisi bus biasanya sudah cukup penuh dari arah Ragunan ke Kuningan. Paling-paling hanya satu atau dua orang–yang sedikit memaksa–tetap naik bus setiap ada yang berhenti.
Aku dan lelaki tampan itu persis bersebelahan. Maju sedikit demi sedikit setiap ada antrian yang di depan kami masuk ke dalam bus. Pintu halte yang otomatis–terbuka dan tertutup setiap ada bus berhenti–menjadi saksi. Aku tak berani menoleh langsung untuk melihatnya. Hatiku berdebar-debar. Ketika sampai kami tepat di depan pintu kaca otomatis itu, aku bisa memandang samar-sama wajah tampannya. Aku tak bisa tersenyum, kaku rasanya wajah ini, hanya mataku yang melirik kepadanya dalam bayangan kaca. Mata kami saling menatap di dalam bayangan kaca itu. Deg!
Saat-saat seperti itu biasanya tak terjadi lama. Karena kami masing-masing harus segera naik bus. Ada perasaan penasaran, ingin berkenalan dengannya. Tapi kupikir-pikir, rasanya tak mungkin mengajak orang kenalan di halte tanpa ada kejadian yang “luar biasa”. Akhirnya hanya bisa mencoba datang ke halte di waktu yang relatif sama setiap pagi. Berharap untuk berjumpa dan dekat dengannya lagi.
Perkenalan
Entah sudah perjumpaan ke berapa di halte itu, dan aku masih belum juga kenalan dengannya. Malam itu, di dalam kamar kosku, aku sendirian. Iseng-iseng buka aplikasi WeChat lalu buka People Nearby. Aku menggulirkan layar HPku ke bawah. Mencari wajah yang kukenali. Hey! Itu dia! Lelaki tampan di halte itu. Kulihat fotonya terpampang di profile, segera aku klik dan aku lihat lebih jelas fotonya. Iya, itu dia. Tanpa menunggu lama, segera aku sapa. Rasanya deg-degan menanti jawaban chatnya. Ketika dia membalas, aku bahagia banget. Wah, ternyata direspon! Dari percakapan itu kami pun merencanakan pertemuan. Saat itu kami janjian buat ketemu di kosanku.
Di hari yang sudah ditentukan, akhirnya dia datang ke kosanku. Kami ngobrol ngalor-ngidul untuk saling mengenal. Rasanya campur aduk saat itu. Kami jujur bahwa saat itu ada orang lain yang menjadi partner kami masing-masing. Namun aku beranikan diri untuk meminta izin menciumnya. Dengan tegas dia menolakku. Ketika kutanyakan alasannya, dia bilang bahwa tidak mau nantinya jadi karma buruk buat kami.
Pertemuan dan perkenalan kami sore itu, meninggalkan bekas yang dalam. Bukan sakit karena penolakan darinya. Tapi aku melihat sosok yang punya prinsip dan dia memegang prinsip itu dengan teguh. Sangat jarang melihat anak muda (karena dia jauh lebih muda dariku) saat ada kesempatan untuk berbuat tetapi memilih untuk memegang teguh apa yang ada, bukan merusaknya. Saat itu, yang membekas dariku adalah: suatu saat dia jadi pasangan hidupku. Dan aku menunggu dengan sabar, impianku menjadi kenyataan.
Setelah hari itu, kami masih bertemu sesekali. Dalam kapasitas kami masing-masing, di mana kami masih punya pasangan masing-masing. Dengan problematika hidup kami masing-masing. Bahkan ada masa di mana berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun kami tak saling jumpa. Kami tenggelam dalam kehidupan kami masing-masing.
Perubahan Hidup
Hingga pada suatu hari di bulan Mei 2023. Kami bertemu lagi. Tentunya kami sudah banyak berubah dari awal-awal ketemu dahulu. Obrolan mengalir seperti biasa. Tanpa ada obrolan mengenai perasaanku atau perasaannya. Aku bisa menjadi diriku sendiri di hadapannya, menceritakan apa yang tidak atau jarang aku ceritakan ke orang lain. Ada sebuah topik yang menyatukan kami. Topik yang bagi orang lain mungkin asing atau tabu atau tidak logis. Tak apa, aku menikmatinya.
Kami mulai intens untuk bertemu. Nongkrong bareng, menikmati kopi, mencoba cafe-cafe unik, atau sekedar ngobrol di teras belakang kosanku. Lagi-lagi tetap dengan obrolan santai tanpa membumbui dengan perasaan kami. Aku sempat mengenalkannya ke beberapa temanku, yang akhirnya kami berada di satu-dua circle pertemanan yang sama.
Perjalanan hidup membawaku pada ujung hubunganku dengan orang sebelumnya. Dulu, aku pikir aku akan butuh waktu sebentar untuk mengkalibrasi hati dan pikiranku setelah lepas dari orang sebelumnya ini. Namun ternyata hal itu tak perlu aku lakukan karena perjalanan beberapa tahun ke belakang sudah membuatku berhenti sejenak dan mengkalibrasi hati serta pikiranku.
Ketika semua makin jelas. Closure juga aku dapatkan dengan jelas dari hubunganku dengan orang sebelumnya. Lambat laun perasaan sayangku muncul lagi, perasaan yang dulu kusimpan rapi, bahkan beberapa tahun ini ketika selalu bersamanya. Akhirnya aku membuka diri, menyatakan rasa sayangku padanya. Dan ketika dia membalas bahwa dia sayang juga ke aku, betapa senangnya hatiku.
Kami sepakat untuk menjalani ini semua dengan tidak buru-buru meskipun terkadang aku menggebu-gebu. Saat ini, aku bahagia bisa bersamanya.

Leave a comment