Terombang-ambing. Tak ada ambing yang tak kami ombang. Karena kami: Terombang (k)ambing!
Ternyata aku berada di titik ini, kamu juga. Ah, kok sama? Padahal perbedaan itu indah. Seindah pelangi di matamu, katanya. Emangnya matamu abis hujan? Kok ada pelangi? Ah, rupanya kamu habis menangis semalam, emang semalam di mana? Sama siapa? Lho kok jadi posesif?
Ternyata terombang-ambing di lautan lepas itu menakutkan. Sorong ke kanan, sorong ke kiri. Lalalalalala. Andaikan gayung pink lope, eh salah. Andaikan dayung itu masih ada, mungkin kita bisa sama-sama ke tepian pantai, menemukan pulau berisi harta karun. Hidup bahagia selamanya. Tapi…
Ternyata itu masih mimpi. Kita masih terombang-ambing. Bahkan saat malam kita bisa melihat bintang dan bulan dengan jelas. Hei… Padang rembulan mas… Soyo suwe disawang…
Seandainya dan seandainya menjadi kesibukan dalam pikiran dan hati kita. Menunggu dan menanti. Menanti dan menunggu. Ah, sama saja! Tiba-tiba aku berdendang, “Menghitung hari…. Detik demi detik… ” Lalu senyap.
Dipost di Facebook tanggal 6 Februari 2025

Leave a comment