Sebuah Catatan Kehidupan

Hidup itu anugerah, Hidup itu perjalanan panjang, Hidup itu penuh makna dan pelajaran.

LGBT_leadership

Sejak akhir Januari 2016, pemberitaan dan media sosial (mungkin juga obrolan-obrolan sesama teman) di Indonesia kembali dihebohkan dengan topik tentang LGBT. Seperti biasa topik ini menjadi pro dan kontra.

Baru saja aku selesai membaca 2 artikel di sebuah media cetak dengan topik mengenai LGBT. Sesuai dengan mainstream dari media ini (yaitu agama) semua artikel/tulisan tersebut sangat menentang LGBT dengan semua dalih dan dalilnya.

Setelah membaca artikel tersebut, tiba-tiba terbesit beberapa hal. Pertama, apakah apabila LGBT dilegalkan/diakui oleh negara kemudian benar akan merusak moral bangsa? Bukankah moral bangsa ini sudah cukup rusak padahal LGBT saja tidak mereka akui? Mengapa mengkambinghitamkan LGBT? Sempit sekali bila moral hanya diukur dari urusan kelamin saja!

Kedua, salah satu tujuan perkawinan adalah untuk melestarikan umat manusia. Apakah benar bila LGBT diakui kemudian manusia tidak akan lestari? Ketika mengakui LGBT tidak serta merta membuat orang-orang yang heteroseksual menjadi homoseksual. Kembali lagi, itu masalah selera. Lagi pula seberapa banyak hubungan seks dalam pernikahan heteroseksual yang benar-benar tujuannya untuk reproduksi? Lebih sering mana yang tujuannya untuk reproduksi atau pleasure? Dalam hubungan homoseksual tentu saja tujuannya adalah lebih ke pleasure.

Ketiga, sikap kita pun masih saja plin-plan. Dalam banyak hal kita pilah-pilih. Yang menurut kita menguntungkan kita, kita ambil. Begitu pula dengan hukum-hukum dalam agama. Hanya yang menguntungkan kita saja yang diambil. Apa kabar dengan korupsi? Apa kabar dengan menjaga kebersihan? Apa kabar dengan menggosip? Apa kabar dengan hukum waris? Ah, rasanya meskipun saat ini banyak praktek yang tidak sesuai dengan agama, orang-orang tidak peduli. Lalu mengapa sekarang seperti kebakaran jenggot dengan isu LGBT? Menjadi sok suci dan yang paling benar. Masalah dengan Tuhan, aku kira itu urusan si manusia itu (apapun latar belakang preferensi seksualnya) dengan Tuhan-nya–sesuai dengan keyakinannya. Mengapa menjadi hakim untuk urusan ibadah? Memangnya ibadahmu lebih baik daripada ibadah orang lain? Tidak jaminan!

Keempat, benar memang bila HAM seseorang itu dibatasi oleh HAM orang lainnya. Bukankah alangkah lebih indah bila saling menghargai dan menghormati? Bila tidak mau jadi LGBT ya tidak perlu jadi LGBT. LGBT pun begitu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang tidak mau berpura-pura menjadi heteroseks. Tapi mereka melakukan itu karena tuntutan masyarakat, paling tidak, membohongi keluarga dan masyarakat sekitar, tapi yang paling menyakitkan adalah membohongi hati nurani sendiri. Kembali lagi, saat ini hal itu menjadi pilihan masing-masing individunya.
Dipublikasikan di facebook pada Jumat, 5 Februari 2016
Gambar diambil dari website tech.co
Posted in

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.